“Kebahagiaan saya lengkap. Tim saya juara dan saya menjadi MVP. Rasanya luar biasa,” ucapnya.
Euforia kemenangan yang diraih bersama tim barunya ternyata tidak berlangsung lama. Target baru sudah dicanangkan Rony. Tidak tanggung-tanggung, ia menargetkan SM kembali menjadi yang terbaik di IBL musim 2007 dan 2008.
Tak cuma di level kompetisi antarklub domestik,target prestasi di level
antarnegara juga menjadi menjadi sasaran. Meraih medali bersama timnas basket putra di SEA Games 2007 Thailand menjadi target terdekatnya.“Tentunya yang saya lakukan pertama harus lolos dari seleksi dan masuk ke dalam timnas SEA Games 2007. Jika sudah terpilih baru saya berusaha agar timnas mendapatkan medali. Emas kalau boleh,” tekadnya.
Bukan tanpa alasan Rony mencanangkan target tinggi. Menurutnya sukses yang telah berhasil diraih selama ini antara lain berkat gairah dan motivasi yang timbul untuk mencapai target tersebut. Ujung- ujungnya performa maksimal di lapangan pun hadir.
“Memang harus seperti itu. Jika cepat puas dengan prestasi sebelumnya kita tidak akan
berkembang. Selain memasang target, keseriusan untuk menggapainya juga tak kalah penting,”tegasnya.Pertandingan Antarkelas
Entah apa jadinya jika tidak ada pertandingan basket antarkelas di SMU WR Supratman, Samarinda, tempat Rony menuntut ilmu. Gara-gara pertandingan antarkelas inilah anak kedua dari empat bersaudara ini mulai tertarik serius di basket. Apalagi kemudian salah seorang temannya mengajak bergabung ke klub basket Abadi .
Pekan Olahraga Pelajar Daerah dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah pernah diikutinya. Namun karena ka
lah bersaing dengan daerah lain, Kalimantan Timur yang dibelanya gagal tampil di Pekan Olahraga Pelajar Nasional.Tahun 1998 setamat SMU, Rony hijrah ke Surabaya . Universitas Surabaya menawarkan bergabung lewat jalur prestasi melihat bakat besar basketnya. Ia pun memilih jurusan Ekonomi Manajemen.
Tak menunggu lama klub CLS menariknya bergabung di tim junior. Tahun 1999 ia sudah bergabung dengan tim CLS yang berlaga di Kobatama meski lebih lama duduk di bangku cadangan.Baru saat Eddy Santoso menukangi CLS tahun 2000, Rony mendapat kepercayaan lebih banyak bermain.
“Salah satu gim yang paling berkesan adalah saat mengalahkan SM di Malang tahun 2001. Waktu itu empat free throw saya semuanya masuk dan membawa CLS menang,” katanya.
Terus Mengasah Kemampuan
Kecepatan dan timing tepat dalam melakukan rebound ataupun block menjadi kelebihan pemain yang memakai kostum bernomor 32 di SM. Akurasi medium shoot yang tinggi juga membuat dirinya sulit diben
Tak heran jika ia terus berupaya mengasah kemampuannya. Selain latihan rutin bersama tim, ia juga melakukan latihan tambahan sendiri. Ini dilakukan sejak masih bergabung bersama CLS hingga sekarang. Fitness merupakan salah satu pilihan untuk menambah kekuatan fisiknya.
Menjadi lebih mudah karena tempat fitness tepat berada disamping mess SM.Ketenaran dan materi yang didapat ternyata tidak menarik minat Rony untuk berlama-lama bermain basket. Sebab itulah pria yang saat berada di Samarinda gemar memancing ini memutuskan untuk pensiun usai kontraknya bersama SM habis dua musim lagi.
“S
Saat ini Rony memikirkan jalan untuk segera menyelesaikan kuliahnya yang terus tertunda. Ia berharap saat pensiun, ia juga telah berhasil menamatkan studi.
Data Diri
Nama: Rony Gunawan
Panggilan: Rony, Rogun, Acong
Lahir: Samarinda 20 Agustus 1980
Tinggi/berat: 193 cm/87 kg
Anak ke: 2 dari 4
Orangtua: Yanto Gunawan (ayah),Yuliati (ibu)
Pendidikan: SD Katolik WR Supratman, Samarinda 1986; SLTP Katolik WR Supratman, Samarinda 1992; SMU Katolik WR Supratman, Samarinda 1995; Universitas Surabaya 1998-sekarang
Hobi: nonton film, sepakbola, memancing
No Sepatu: 48
Pebasket idola: Tim Duncan, I Made Sudiadnyana
Karir Klub: Abadi, Samarinda 1997; CLS 1998; Satria Muda Britama 2005-sekarang (isr)



